ric.cid blog


media komunikasi

Posted in Uncategorized oleh ricky pada November 3, 2007

LAPORAN PEMBUATAN BLOG KOMUNIKASI

Disusun Sebagai Pengganti Ujian Tengah SemesterAplikasi Dasar Komputer

A. Informasi 1 : Universitas dan Manajemen Media

TGL AKSES(dd/mm/yyyy hh:mm:ss) TEKNIK SEARCHING HASIL
02/11/2007 20:13:19 +universitas +manajemen media :: Prospek Lapangan Kerja :: Banyak peluang kerja profesi komunikasi jika Anda memilih kuliah di Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia. 1. Konsentrasi Manajemen Media a. Manajer/ Pengelola media komersial dan komunitas b. Manajer Produksi dan Komunikasi Pemasaran Media c. Konsultan Manajemen Media Komersial dan Media Komunitas. 2. Konsentrasi Public Relations 1. Public Relation Officer di instansi pemerintah, perusahaan swasta, media massa dan institusi/organisasi profesional 2. Media Relation Officer atau juru bicara instansi pemerintah,perusahaan swasta, media massa dan institusi/organisasi profesional 3. Analisis media/perencana media (Media Planner) 3. Konsentrasi Jurnalistik 1. Wartawan surat kabar, majalah, tabloid, radio, televisi dan media online 2. Editor berita surat kabar, majalah, tabloid, televisi, radio dan media online 3. Presenter, Kamerawan, Script Writer program di televisi, radio dan agen promosi kehumasan. 4. Konsentrasi Broadcasting a. Dai b. Penyiar radio/televisi c. Konsultan multimedia d. Selebritis: Sutradara, pembuat film, artis http://www.uii.ac.id/index.asp?u=331&b=I&v=1&j=I&id=8 20:56, Google, 02.11.2007 20:13:19

B. Informasi 2 : Komunitas Manajemen Media

TGL AKSES(dd/mm/yyyy hh:mm:ss) TEKNIK SEARCHING HASIL
02/11/2007 20:13:19 +komunitas +manajemen media 09 February, 2007Manajemen media massa perlu ditingkatkan Samarinda, Kompas – Belanja masyarakat Indonesia untuk media cetak saat ini masih sangat rendah. Data yang dimiliki Serikat Penerbit Surat Kabar menunjukkan, masyarakat Indonesia lebih banyak membelanjakan uang untuk membeli rokok dibandingkan membeli media cetak. Hal itu juga menunjukkan, pemasaran yang dilakukan perusahaan rokok jauh lebih berhasil dibandingkan dengan perusahaan media massa. “Empat tahun lalu kami menemukan fakta, spending untuk surat kabar Rp 4,9 triliun per tahun. Spending untuk rokok Rp 150 triliun per tahun,” kata anggota Serikat Penerbit Surat Kabar Leo Batubara dalam Konvensi Nasional Media Massa di Samarinda, Kamis (8/2). Konvensi digelar dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) yang akan digelar hari Jumat ini. Menurut rencana, peringatan HPN ini akan dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla. Leo menambahkan, kemampuan memasarkan media cetak tidak terlepas dari kondisi manajemen media massa. Dua tahun lalu, misalnya, hanya 30 persen media massa yang dinilai sehat secara bisnis. Dalam kesempatan itu, Direktur Utama TransTV dan Trans7 Ishadi SK menyampaikan 10 kiat yang dapat digunakan untuk mengatasi kelemahan manajemen media cetak dan media elektronik. Kiat-kiat tersebut antara lain perlu melakukan studi pasar yang komprehensif dan mendalam agar perencanaan bisnis akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika harus mencari investor, katanya, haruslah dicari yang memiliki visi dan misi sesuai dengan medianya. Media massa juga harus berani mengambil peluang usaha dengan memanfaatkan teknologi informasi serta konsisten meningkatkan kualitas. Pengajar Ilmu Komunikasi dari Universitas Gadjah Mada Amir E Siregar menyatakan, media massa bisa dibedakan menjadi media yang berorientasi bisnis dan yang punya misi perjuangan/idealisme. Meski demikian, keduanya tidak bisa dipertentangkan karena media di Indonesia adalah perjuangan dengan konsekuensi bisnis. (BRO/YNS) http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/09/utama/3303332.htm, 20:56, Google, 02.11.2007 20:13:19

C. Informasi 3 : Komunikasi dan Manajemen Media

TGL AKSES(dd/mm/yyyy hh:mm:ss) TEKNIK SEARCHING HASIL
02/11/2007 20:13:19 +komunikasi +manajemen media 08 Oktober 2007 – 16:00Media Komunikasi Massa LokalOleh Agus Alfons Duka SVD Dalam tiga kali lokakarya yang diselenggarakan oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI dengan para koordinator komunikasi keuskupan yang berlangsung di Batam pada 16-18 Juli 2007 (untuk wilayah Sumatera), Bali pada 21-23 Agustus 2007 (untuk wilayah Nusra, Jawa dan Kalimantan ) dan di Makassar pada 2-4 Oktober 2007 (untuk wilayah Papua, Sulawesi dan Maluku), sempat dibicarakan cukup panjang tentang bagaimana memanfaatkan media massa modern dalam karya pastoral dan misioner gereja. Sebagai Areopagus jaman modern, semua orang katolik diimbau untuk tidak segan-segan menggunakan media massa modern sebagai sarana ampuh dalam karya kerasulannya. ( bdk Redemptoris Missio no 37; Pesan Paus Yohanes Paulus II pada Hari Komunikasi Sedunia yang ke-39 tahun 2005). Dari ketiga lokakarya itu tampak bahwa hampir semua keuskupan di Indonesia telah memiliki strategi komunikasi dan sarana komunikasi mulai dari cetak (buletin, majalah ), radio, studio audio, website disamping media komunitas lain baik yang bersifat budaya (tarian dan folk song, drama) maupun yang bersifat perjuangan (street teater, poster, dll). Namun kesulitan mulai muncul tatkala para peserta lokakarya menginventarisasi sejumlah rintangan dalam karya pastoral di bidang komunikasi. Biaya maintenance yang mahal, tenaga pengelola media yang terbatas dan kurang profesional, transportasi dan distribusi majalah yang terhambat oleh kurangnnya sarana transportasi, sulitnya medan geografis. Demikian juga infrastruktur lain seperti PLN yang tidak selalu stabil (mati-hidup) sehingga jam mengudaranya radio (on air) tidak lagi tergantung pada rencana jam tayang (prime time) tetapi pada jam beroperasinya PLN, jaringan telekomunikasi yang terputus-putus sehingga website tidak bisa di-update setiap waktu dengan akibat informasi dalam website terkesan basi, dll. Penggunaan media massa yang seharusnya memperingan beban kerja dan meningkatkan hasil kerja, dalam praktiknya justru menghambat dan membebankan kerja kita termasuk karya kerasulan gereja. Dan itu berarti beban biaya menjadi tinggi. Inilah yang disebut sebagai paradoksnya teknologi komunikasi. Berdasarkan paparan situasi tersebut di atas, ada dua aspek yang menurut hemat saya perlu mendapat perhatian yakni memiliki media komunikasi dan menggunakan media komunikasi yang tersedia. Memiliki media komunikasi (massa) modern. Sangat ideal kalau gereja (keuskupan) memiliki sendiri media massa baik cetak maupun elektronik dan virtual. Karena dengan demikian, gereja dapat dengan lebih mudah menyusun strategi pastoral komunikasi yang lebih teratur dan terarah serta merencanakan pasokan isi (content) yang sesuai dengan spiritualitas (ideologi) yang dianut. Juga dengan menjadi pemilik media komunikasi, para pengelola bisa dengan leluasa memilih format-kemasan yang sesuai, pilihan timing yang tepat dan khalayak sasar yang lebih tertuju. Dan tentu saja hal ini mengandaikan bahwa keuskupan (gereja) sudah sangat profesional dalam bidang manajemen media mulai dari pra-produksi, proses produksi, pos-produksi yang menyangkut distribusi, transportasi, marketing. Syukur kalau gereja (keuskupan) sudah berada pada tingkat ini. Memanfaatkan media komunikasi yang tersedia. Ini merupakan suatu alternatif pilihan kalau keuskupan (gereja) tidak memiliki dan mengelola media sendiri dengan berbagai alasan seperti yang telah dipaparkan tadi. Komisi komunikasi keuskupan (paroki) perlu mendata, menginventarisasi semua jenis media komunikasi yang ada di keuskupannya, mempelajari kekhasan tiap-tiap media dan menguji sejauh mana pengaruh media tersebut bagi masyarakat. Hal ini penting agar kita dapat menyusun rencana siaran yang sesuai dengan kekhasan media yang tersedia dan pilihan media yang variatif sifatnya karena akses ke banyak media yang tersedia Bagi masyarakat buta huruf, mungkin media radio yang paling cocok ketimbang majalah, dsb. Hal lain yang penting dicatat adalah mendata pemilik media. Kepemilikan media di keuskupan sangat banyak dan beragam. Ada berbagai tarekat religius yang memiliki media tertentu (buletin, majalah, website, dll.) dan mungkin dengan cara pengelolaan yang lebih profesional. Keuskupan sebenarnya perlu mendekati media yang sudah tersedia dan membangun kerjasama sehingga tak perlu lagi men-set up sebuah majalah baru yang tentu ditujukan kepada orang yang sama dalam keuskupan. Disamping tarekat religius, masih ada para pemilik media seperti pemerintah (Radio Pemerintah Daerah /RPD dan RRI, TVRI lokal), organisasi kemasyarakatan/ LSM (radio komunitas, buletin, majalah), agama lain (radio, studio audio, majalah, dll), pengusaha ( majalah, website, dll.). Dengan kerjasama yang demikian, biaya proses produksi dapat ditekan, kecemasan untuk mencari dan membiayai tenaga profesional menjadi semakin kecil. Di pihak lain, dengan membangun kerjasama dengan para pemilik media yang sudah ada dan tersedia di keuskupan, kita sebenarnya sedang membangun sebuah dialog; dialog dengan tarekat-tarekat religius, dialog dengan pemerintah, dialog dengan pengusaha, dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan dan dialog dengan agama lain. Kalau toh ini sungguh terjadi, maka tujuan komunikasi justru tercapai yakni “building community of all people in diversity” (membangun komunitas yang menghargai keberagaman). (Agus Alfons Duka, SVD, Sekretaris Eksekutif Komsos KWI) http://mirifica.net/wmview.php?ArtID=441920:56, Google, 02.11.2007 20:13:19

D. Informasi 4 : Network Manajemen Media

TGL AKSES(dd/mm/yyyy hh:mm:ss) TEKNIK SEARCHING HASIL
02/11/2007 20:13:19 +network +manajemen media Mengintegrasikan Media Kampus Hiruk-pForum Media Kampus di Jogjaikuk media kampus (baca: media yang dikelola staf pengajar dan humas kampus) nampaknya tidak segegap-gempita pers mahasiswa yang dalam sejarah perjalanannya memang memiliki kait-mengait dengan aktivisme gerakan politik mahasiswa. Sejak di masa Orde Baru hingga era reformasi ini. Lazimnya di sebuah kampus, kehadiran media kampus merupakan sebuah keniscayaan, mengingat kampus sebagai wahana pengembangan keilmuan, membutuhkan medium untuk menyebarkan gagasan perkembangan ilmu maupun aktivitas lain di kampus bersangkutan. Sungguh pun demikian, popularitas media kampus harus diakui tidak sebesar pers mahasiswa. Padahal, dari sisi bentuk dan populasinya, media kampus tidak kalah dengan pers mahasiswa. Mulai dari jurnal, majalah bulanan, radio kampus, TV kampus, hingga situs web. Apa yang menyebabkan popularitas media kampus masih tertinggal dari pers mahasiswa? Harus diakui, meskipun kampus perguruan tinggi merupakan gudang dari pakar-pakar di bidang manajemen dan komunikasi, tidak dengan serta-merta mampu menjadikan pengelolaan (manajemen) media kampus bergerak sangat progresif, dalam konteks kualitas, kemasan, maupun “pemasaran”. Jamak diketahui, pada umumnya media-media kampus yang berserak di ratusan kampus se-Indonesia, masih dikelola secara sederhana. Sedikit sekali mendapati media kampus yang dikelola secara modern dan profesional. Dengan sudut pandang cara pengelolaan yang masih konvensional demikian, denyut kehidupan media kampus memang tidak terlalu meriah. Berbeda dengan pers mahasiswa yang masih –sekurangnya— menyisakan bara idealisme para pengelolanya. Meskipun sama-sama memiliki kendala keterbatasan finansial. Kerapkali saya mempertanyakan, apakah secara eksistensial media kampus yang berada di lingkungan kampus, juga hanya diposisikan sebagai ruang bereksperimen semata, sehingga pengelolaannya pun menjadi kurang optimal? Wajar bagi sebuah kampus untuk menyemai pelbagai eksperimentasi, sebagai wujud dari pengembangan keilmuan yang diemban seluruh civitas akademika, khususnya para staf pengajar. Namun, apakah tidak memungkinkan mengembangkan manajemen media kampus lebih maju lagi dengan segala keterbatasan yang ada selama ini? Menurut saya, peluang bagi pengembangan manajemen media kampus sungguh masih terbuka lebar. Mari kita singkirkan dulu aspek keterbatasan dana. Dan mencoba membedahnya dari sumber-sumber non finansial. Awalnya adalah Visi dan MisiSecara fundamental, maju tidaknya perkembangan sebuah media –apapun itu, termasuk media kampus—sangat bergantung dari visi dan misi pengelolaan media bersangkutan. Hendak diarahkan ke mana penerbitan media tersebut? Dalam konteks media kampus, saya membayangkan media tersebut mesti diorientasikan kepada dua sasaran (segmen) pembaca yang relevan. Secara internal, ia adalah ruang bagi interaksi antar civitas akademika. Sementara secara eksternal, ia merupakan bagian dari strategi pencitraan kampus bersangkutan. Dengan demikian, posisioning media kampus adalah sebuah media komunitas bagi sasaran pembaca warga kampus, maupun untuk sasaran (segmen) pembaca masyarakat intelektual di luar kampus. Khususnya mereka yang memiliki ikatan langsung (alumni) maupun tidak langsung (stakeholders non alumni). Jika ini menjadi pijakan untuk dikembangkan sebagai basis pengelolaan, maka pengelola media kampus akan lebih mudah dalam mendesain konten dan kemasan media yang akan disajikan. Misalnya, format media kampus tersebut berbentuk jurnal. Sudah barang tentu, ia akan dikemas dalam kaidah-kaidah sebuah jurnal yang standar. Meskipun demikian, di era komodifikasi citra seperti sekarang ini, sebuah jurnal ilmiah pun tidak luput dari tuntutan untuk menampilkan citra produk yang (semi) populer. Ini bisa disiasati melalui penampilan kulit muka jurnal yang lebih eyecatching, misalnya. Sementara isinya tetap memiliki bobot lazimnya sebuah jurnal ilmiah. Adapun media kampus non-jurnal, dalam pandangan saya jauh lebih leluasa untuk dieksplorasi dengan sejumlah gaya dan cara penampilan yang populer. Apabila sekarang dalam ranah media lokal komersial dikenal sebuah teori baru (Shaping the Future of Newspaper Report, 2007) bernama 4Ns –Newspapers, Neighbours, Niche and Network– maka media kampus harus mampu menjadikan dirinya menjadi “media super lokal”. Pendekatan atau strategi 4Ns tersebut mengandaikan bahwa media-media komersil lokal kini harus mengubah orientasinya semakin tajam dan fokus lagi terhadap market di lingkungannya. Dalam teori komunikasi, dikenal sebutan market yang semakin narrow (jamak dipraktikkan pada media broadcast). N pertama (Newspapers) diandaikan sebagai backbone media bersangkutan. Lalu N berikutnya (Neighbours), merupakan personifikasi atas fokus isi yang semakin hyper local, bahkan hingga menembus ruang-ruang di lingkungan blok atau gedung-gedung apartemen. Sedangkan N ketiga (Niche), dipahami sebagai bentuk membangun market pembaca melalui komunitas-komunitas berbasis hobi (interest). Dan N keempat (Network), adalah agregasi dari pendekatan kovensional dan digital media bersangkutan. Media kampus non-jurnal jelas memiliki segala persyaratan untuk mengadopsi pendekatan 4Ns ini. Ia lahir di wilayah komunitas (kampus), memiliki pembaca yang terbangun dari beberapa kesamaan kepentingan (keilmuan), cakupan pembacanya juga berada persis di sekitarnya (areal kampus dan sekitarnya), dan memungkinkan diintegrasikan dengan layanan media digital yang juga dikembangkan oleh kampus bersangkutan. Di era serba digital dan –saya suka menyebut ini— Generasi Google, nyaris tak banyak penghuni kampus yang belum melek internet. Karena itu, secara teoritis, media kampus konvensional (cetak dan penyiaran), dengan mudah bisa disinergikan (untuk tidak menyebut sebagai konvergensi, karena hingga saat ini belum ada satupun media komersial di Indonesia yang sudah konvergen) dengan media digital (web site). Pertanyaannya kini, bagaimana menyinergikan hal tersebut? Sekali lagi, ini menyangkut persoalan manajemen, saya kira. Mulai dari manajemen SDM, konten atau produk, pemasaran, hingga manajemen keuangan. Saya lebih senang menggunakan pakem-pakem media komersial meskipun sedang mendiskusikan ranah media kampus sekalipun. Bahkan pers mahasiswa. Karena diakui atau pun tidak, dalam praktiknya, para pengelola media kampus juga menerapkan pendekatan-pendekatan manajemen (dalam ukuran tertentu) yang lazim digunakan oleh media komersial. Eksistensi media kampus cetak yang jauh lebih dahulu hadir ketimbang media kampus penyiaran dan digital, sudah barang tentu bisa ditempatkan sebagai backbone jaringan multimedia yang akan dikembangkan. Ia –media kampus cetak— tetap merupakan kapal bendera (flagship) media kampus. Nah, prasyarat terpenting bagi pembangunan media kampus yang multimedia, adalah terciptanya sebuah newsroom, yang dapat mengintegrasikan pengelolaan (konten, khususnya), agar antar format media kampus tidak saling overlap satu dengan yang lain. Terbentuknya newsroom sekurangnya memiliki manfaat sebagai berikut: * Mengintegrasikan konten antar format media di kampus. * Memfokuskan strategi konten dan sasaran konsumen media (pembaca, pendengar, dan pemirsa). * Mengefisiensikan pembiayaan. * Memudahkan pengelolaan (dalam satu atap manajemen). Integrasi newsroom selanjutnya akan mendorong proses integrasi manajemen yang lain, seperti SDM, pemasaran, dan keuangan. Dengan demikian, pengembangan media kampus jauh akan lebih terarah kepada segmen konsumen yang tepat, yang pada gilirannya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan (jika memungkinkan) pemasaran lewat penjualan ruang-ruang iklan. Konten yang MelimpahSumber daya manusia kampus yang melimpah, saya kira merupakan sebuah keunggulan kompetitif yang dimiliki kampus bersangkutan dalam mengembangkan integrasi media kampus yang sudah diciptakan. Awareness dan penetrasi masyarakat kampus, khususnya mahasiswa terhadap teknologi informasi, memungkinkan untuk digandeng sebagai pemasok-pemasok konten cukup handal bagi media kampus. Kini, sangat populer apa yang disebut dengan fenomena Blogger, untuk menyebut mereka yang memiliki situs blog tersendiri sebagai ruang berekspresi. Para blogger ini sebenarnya bisa digandeng dan diajak bekerjasama untuk mengembangkan kualitas dan kuantitas konten media kampus agar lebih kaya secara konten maupun kemasan. Tentu harus dipilih Blog-Blog tertentu yang memiliki kesamaan visi dan misi dengan konten yang dikembangkan oleh media kampus. Kerjasama konten dengan para blogger bisa dimanfaatkan media kampus versi digital maupun cetak. Tinggal kini adalah soal pengaturan dan model kerjasama yang akan dikembangkan. Pada konteks inilah manajemen dari pengelola media kampus dituntut untuk mampu bertindak secara perform, agar kontribusi yang bisa disumbang warga kampus bagi pengembangan media kampus lebih optimal. Dan semua itu relatif tidak membutuhkan sumber daya finansial yang besar. Dengan memanfaatkan aset-aset kampus yang sudah tersedia –infrastruktur fisik, laboratorium sains dan sosial, serta seluruh civitas akademika yang memiliki concern terhadap media kampus—saya kira eksistensi media kampus akan semakin berkibar di era multimedia dan generasi Google ini. Semoga. *** Catatan: Tulisan ini merupakan bahan presentasi saya pada Forum Fasilitasi Media Kampus (Revitalisasi Media Kampus) yang diadakan oleh Depkominfo di Jogja, 22 – 23 Agustus 2007. http://asmono28.wordpress.com/2007/08/24/mengintegrasikan-media-kampus/20:56, Google, 02.11.2007 20:13:19

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: