ric.cid blog


Profesi Wartawan

Ditulis dalam Uncategorized oleh ricky pada April 12, 2008

Wartawan atau jurnalis adalah profesi seorang yang menciptakan laporan untuk disebarluaskan atau dipublikasi dalam media massa (koran, televisi, radio, majalah, film dokumentasi, dan internet). Jurnalis meliputi kolumnis, penulis lepas, fotografer, dan desain grafis, dan editor. Akan tetapi dalam kenyataannya di Indonesia profesi jurnalis hanya disangkutkan dengan nama wartawan.
Profesi wartawan dan kewartawanan sering disalahkaprahkan, karena adanya muatan yang diakseskan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok. Adanya masalah-masalah finansial yang melingkupi wartawan menjadi penyebab penyalahkaprahan ini. Dalam fitrahnya profesi kewartawanan mempunyai tanggung jawab terhadap moralitas pekerjaannya, yang kemudian menjadikannya sebagai bagian integral pembentukan kredibilitas- profesinya.
Stereotipe wartawan oleh masyarakat menjadi buruk karena ada sebagian oknum yang mengatasnamakan wartawan kemudian tidak dapat menjaga keprofesionalitasanya dalam melakukan tugas. Wartawan menerina ampau/amplop demi kepentingan seseorang dan demi kepentingan finansial pribadi wartawan itu sendiri. Fenomena ini sudah mengubah citra wartawan sebagai pekerja yang objektif dalam melaporkan setiap berita.
Faktor lingkungan kemasyarakatan sendiripun dapat mengubah moralitas seorang wartawan. Semakin banyak masyarakat yang ingin memanfaatkan peran wartawan untuk kepentingan pribadi, maka banyak moral wartawan yang semakin berubah. Fenomena ini memungkinkan juga untuk menjadikan perubahan sosial yang terjadi dalam struktur kewartawanan itu sendiri. Wartawan tidak dapat lagi merepresentasikan profesinya yang mulia, tetapi hanya menuntut kepada kebutuhan finansial wartawan tiu sendiri.
Pengembalian moralitas wartawan menjadi profesi yang mulia sebagai penyampai berita objektive juga harus dimulai dari dalam diri wartawan itu sendiri dan dari pihak-pihak lain yang memanfaatkan peran wartawan agar tidak memaksakan kepentingan pribadi.

PANCASILA DI MASA ORDE BARU

Ditulis dalam Uncategorized oleh ricky pada April 12, 2008

Masa Orde Baru yang telah ditinggalkan oleh Bangsa Indonesia telah meninggalkan banyak warisan. Salah satu warisan yang ditinggalkan oleh masa Orde Baru adalah bidang politik. Di bidang politik, dominasi eksekutif yang berakhir dengan dominasi lembaga kepresidenan telah menyebabkan banyak kerancuan. Presiden menjadi sangat berkuasa tidak hanya dalam konteks kelembagaan bahkan jabatan presiden telah berubah jadi personifikasi Soeharto. Pada akhir jabatannya, Soeharto seperti mengambil seluruh cabang kekuasaan di luar eksekutif yakni legislatif dan yudikatif.
Di bidang legislatif, presiden yang notabene daya jangkau kekuasaannya dalam bidang eksekutif mencampuri lembaga legislatif bahkan lembaga tertinggi negara seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat. Presiden menunjuk utusan golongan dan masyarakat separuh dari 1000 anggota MPR. Secara tidak langsung, Presiden Soeharto ikut mempengaruhi isi dari lembaga tertinggi negara itu dalam pemilihan presiden dan wakil presiden.
Secara ringkas, konsepsi ideologi atau keyakinan terhadap gagasan pada masa Orde Baru bertumpu pada dua kekuatan yakni pembangunisme (developmentalism) dan keyakinan akan dwifungsi ABRI. Orde Baru sebenarnya ingin memberangus ideologi dengan melarang ideologi lain selain Pancasila. Namun, tulis R William Lidlle, keyakinan itu muncul karena kesalahan menafsirkan apa yang disebut ideologi. Liddle menilai, masyarakat tanpa ideologi sama dengan masyarakat tanpa konflik dan harapan. Ideologi sendiri sebenarnya menghasilkan peta realitas sosial yang bisa membedakan penyebab penting perilaku manusia dari yang tidak penting dan menjelaskan bagaimana masa lalu membentuk masa kini dan bagaimana masa kini membentuk masa depan.
Selama lebih dari 30 tahun, para pendiri rezim militer Orde Baru (terutama dari kalangan TNI-AD) telah menyalahgunakan dan melacurkan Pancasila, dalam rangka untuk melaksanakan de-Sukarnoisasi, dan menghancurkan kekuatan utama pendukung politik Bung Karno, yaitu PKI dan golongan kiri lainnya. Dengan Pancasila yang sudah dipalsu – atau dibunuh jiwa aslinya- para tokoh militer telah memaksakan legitimasi Orde Baru. Dewasa ini, sisa-sisa kekuatan rezim militer Suharto dkk masih terus berusaha menggunakan (secara licik!) Pancasila untuk mempamerkan barang dagangan mereka yang busuk dan sudah dinajiskan oleh banyak orang, yaitu Orde Baru.
Salah satu contohnya ialah apa yang diberitakan Kompas pada tanggal 13 Januari 2004 yang berbunyi, antara lain : “Partai Karya Peduli Bangsa yang tegas-tegas menyatakan sebagai partai Orde Baru menyerang tokoh maupun partai yang anti-Orde Baru sebagai anti-Pancasila dan UUD 1945. Orde Baru itu adalah sikap mental yang menjaga kemurnian Pancasila dan UUD 1945.
Selama puluhan tahun, setiap tanggal 1 Oktober dirayakan sebagai Hari Kesaktian Pancasila, untuk memperingati terbunuhnya 6 jenderal TNI-AD (dan seorang perwira) dalam peristiwa G30S, dan sekaligus sebagai legitimasi lahirnya Orde Baru. Hari Kesaktian Pancasila selalu dirayakan oleh rezim militer Orde Baru dengan penuh nuansa anti-Bung Karno dan anti-PKI.
Begitu besar sikap permusuhan para penguasa rezim militer Orde Baru (terutama tokoh-tokoh utama TNI-AD) terhadap Bung Karno, sehingga Kopkamtib melarang peringatan Hari Lahir Pancasila sejak 1 Juni 1970. Tidak lama kemudian, beberapa hari sesudah diumumkannya larangan itu, Bung Karno, pencipta Pancasila, wafat dalam keadaan sebagai tapol yang menderita sakit.

Menurut Mohtar Masoed (1994), sebelum Orde Baru sudah ada kelompok intelektual yang mengembangkan sejenis ideologi yang berdasarkan pada nilai rasionalisme, sekular pragmatisme dan internasionalisme . Nilai-nilai yang berdasarkan pada modernitas sekuler tetap hidup di kalangan intelektual dan aktivis mahasiswa di Jakarta dan Bandung sepanjang tahun 1960-an.

Gagasan modernitas ini mendapat kekuatan baru karena kembalinya sejumlah intelektual reformasi yang baru meraih gelar doktor di AS dan adanya teori-teori ilmu sosial baru yang mendukun mereka. Sebelum lahir iedologi pembangunan yang digunakan Orde Baru di kemudian hari ada perlunya melihat tiga teori sosial yang mempengaruhi kalangan intelektual tahun 1960-an.

Pertama, hipotesis Martin Lipset bahwa demokrasi politik umumnya terjadi setelah keberhasilan pembangunan ekonomi. Ia menilai, negara yang berhasil mencapai kehidupan demokrasi liberal yang stabil adalah bangsa-bangsa yang sudah menimati tingkat pertumbuhan tinggi. Ia mengambil kesimpulan ini setelah melihat sejarah pertumbuhan demokras-demokrasi di Barat.

Kedua, pemikiran Daneil Bell tentang the end of ideology yang menyebutkan bahwa akibat kemajuan teknologi, pembangunan ekonomi di Barat telah berhasil menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi era Revolusi Industri. Oleh karena itu Barat tahun 1960-an menilai politik berdasarkan ideologi sebagai sesuatu yang sudah usang. Ia mengatakan yang berlaku sekarang adalah politik konsensus. Argumen Bell ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat modern, politisi tradisional harus minggir dan memberikan tempat kepada kalangan pakar yang dikenal dengan nama teknokrat.

Ketiga, adanya pengaruh dari teori yang diajukan Samuel Huntington yang mengemukakan akibat negatif dari mobilisasi sosial tak terkendali di masyarakat sedang berkembang. Ia melihat yang penting bagi masyarakat adalah pelembagaan politik. Oleh karena itu pemerintah harus menyalurkan tuntutan rakyat dalam bentuk partisipasi yang tertib.

Pemikiran yang berkembang di dunia internasional yang kemudian berdampak kepada kalangan intelektual yang bergandengan dengan Presiden Soeharto itu sangat kuat untuk melahirkan ideologi pembangunan. Dengan kata lain, pembangunan merupakan titik strategis bagi Orde Baru untuk membangun Indonesia yang ditinggalkan Orde Lama. Mohtar Maso’ed mencatat unsur-unsur dari ideologi pembangunanisme ini.

Dari berbagai pandangan awal Orde Baru, karya tulis Ali Moertopo (1972) menunjukkan pengaruh dari kalangan intelektual sipil yang mengelilinginya. Unsur-unsur ideologi ini adalah pembuatan kebijakan publik yang rasional, efisiensi, efektivitas dan pragmatisme. Unsur-unsur ini mengutamakan ketertiban. Oleh karena itu kemudian dirumuskan dalam bentuk pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik.

Dwifungsi ABRI Berbicara soal ideologi yang kuat selama Orde Baru tak bisa dilepaskan dari doktrin wifungsi ABRI. Sebagai salah satu kekuatan yang tersisa setelah Partai Komunis Indonesia hancur, ABRI mau tidak mau menambah perannya tidak sekedar kekuatan pertahanan dan keamanan tetapi juga kekuatan sosial dan politik. Hal ini didasarkan pada konsep bahwa stabilitas politik bisa tercipta kalau ada campur tangan ABRI dalam politik. Untuk itu ABRI mencari pembenaran campur tangan dalam politik.

Namun pada awal perdebatan tentang peran ABRI, Mohtar memetakan persoalan yang dihadapi ABRI pada masa itu yang berpengaruh pada 32 tahun kemudian. Pada umumnya di kalangan ABRI dan intelektual yang bekerja sama dengan mereka terdapat perbedaan mengenai bagaimana sistem politik harus dibangun setelah Orde Lama runtuh. Kemudian berkembang dua peta pemikiran yang menghendaki reformasi sekarang dan nanti.

Mereka yang berpendapat pada reformasi sekarang menghendaki terciptanya sebuah partai massa untuk menandingi partai-partai yang ada. Dengan demikian diharapkan adanya sebuah partai yang pro pada sistem baru dan mendukung tatanan yang sedang dibangun untuk meninggalkan Orde Lama.

Sebaliknya pendukung reformasi nanti menganggap penting untuk merebut kekuatan di birokrasi dan DPR. Langkah ini dianggapnya lebih penting ketimbang membentuk partai baru yang bisa dikalahkan kekuatannya di desa-desa oleh PNI dan NU. Dalam proses berikutnya, reformasi nanti mendapat tempat sehingga memperkuat dwifungsi ABRI dan membuka jalan bagi terpeliharanya posisi ABRI dalam politik.

Apalagi gagasan Abdul Haris Nasution tentang dwifungsi yang dikatakan hanya sementara tidak tertarik lagi karena sudah terlalu dalam campur tangan ABRI dalam politik. Muncullah kemudian campur tangan dalam pemerintahan yang menggunakan kedok kekaryaan. Konsep kekaryaan ini lalu berkembang menjadi tak terkontrol sehingga akhirnya banyak sekali jabatan sipil baik di badan legislatif, eksekutif maupun yudikatif dipegang kalangan militer. Fenomena ini melahirkan transformasi struktur dan budaya militer masuk kedalam struktur eksekutif.

Secara sekilas telah diuraikan bahwa basis ideologi Orde Baru merujuk pada pembangunanisme dan Dwifungsi. Ini berarti bahwa dalam prakteknya, Orde Baru menggunakan lebih banyak keyakinan akan dua hal itu dibandingkan dengan Pancasila yang diakui sebagai ideologi negara.

Alergi akan ideologi yang dialami kalangan intelektual pada era 1960-an merupakan salah satu penyebab mengapa pembangunanisme jadi dominan dalam prakteknya.Karena pembangunan menghendaki stabilitas maka dwifungsi ABRI jadi jaminan sehingga muncul keyakinan akan Doktrin Dwifungsi itu sebagai penyelamat pembangunan.

Bahan Bacaan:
Mas’oed, Mohtar. 1994, Negara, Kapital dan Demokrasi. Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

http://www.hizbut-tahrir.or.id/al-waie/index.php/2007/11/02/asas-tunggal-pancasila-ada-apa/

http://globalisasi.wordpress.com/2007/01/06/basis-ideologi-orde-baru/

Sejarah Kapitalisme

Ditulis dalam Uncategorized oleh ricky pada April 12, 2008

Kapitalis ialah hubungan-hubungan di antara para pemilik pribadi atas alat-alat produksi yang bersifat nonpribadi (tanah, tambang, instalasi industri dan sebagainya, yang secara keseluruhan disebut modal atau kapital) dengan para pekerja yang biar pun bebas namun tak punya modal, yang menjual jasa tenaga kerjanya kepada para majikan (Dudley Dillard, 1987:15)

Kapitalisme berasal dari asal kata capital yaitu berarti modal, yang diartikan sebagai alat produksi misal tanaqh dan uang. Sedangkan kata isme berarti paham atau ajaran. Kapitalisme merupakan sitem ekonomi politik yang cenderung kearah pengumpulan kekayaan secara individu tanpa gangguan kerajaan (Kamus Wikipedia). Dalam kata lain kapitalisme adalah suatu paham ataupuna ajaran mengenai segala sesuatu yang berhunbungan dengan modal ataau uang.

Sistem kapitalisme sepenuhnya memihak dan menguntungkan pihak-pihak pribadi kaum bisnis swasta. Seluruh keputusan-keputusan yang menyangkut bidang produksi baik itu alam dan tenaga kerja di kendalikan oleh pemilik dan di arahkan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Secara sosiologis paham kapitalisme berawal dari perjuangan terhadap kaum feudal, salah satu tokoh yang terkenal Max Weber dalam karyanya The Protestan Ethic of Spirit Capitalism, mengungkapkan bahwa kemunculan kapitalisme erat sekali dengan dengan semangat religius terutama kaum protestan. Pendapat Weber ini didukung Marthin Luther King yang mengatakan bahwa lewat perbuatan dan karya yang lebih baik manusia dapat menyelamatkan diri dari kutukan abadi. Tokoh lain yang mendukung adalah Benjamin Franklin dengan mottonya yang sangat terkenal yaitu “Time Is Money”, bahwa manusia hidup untuk bekerja keras dan memupuk kekayaan.

1. Kapitalisme dan Liberalisme

Kapitalisme merupakan sebuah sistem yang muncul dari sebuah pemikiran dunia Barat. Kapitalisme mulai mendominasi kehidupan perekonomian ekonomi dunia Barat sejak runtuhnya feodalisme. Setelah Eropa memasuki zaman renaiscance yaitu zaman dimana pencerahan mulai muncul setelah zaman feodal kapitalisme muncul bersamaan dengan munculnya ideologi baru yaitu liberalisme.

Liberalisme muncul dari akibat meledaknya revolusi industri di Eropa yaitu perubahan sistem feodal menjadi liberal. Liberalisme di Eropa merubah seluruh aspek kehidupan masyarakat pada zaman itu. Liberalisme mulai masuk pada sendi-sendi kehidupan masyarakat Eropa seperti politik, ekonomi dan sosial budaya.

Dalam bidang ekonomi, di Eropa akhirnya di kenal sistem kapitalisme. Sebuah sistem yang mencakup hubungan-hubungan pemilik modal besar. Bapak kapitalisme yaitu Adam Smith mengemukakan 5 teori dasar dari kapitalisme :
1.Pengakuan hak milik pribadi tanpa batas – batas tertentu.
2.Pengakuan hak pribadi untuk melakukan kegiatan ekonomi demi meningkatkan status sosial ekonomi.
3.Pengakuan adanya motivasi ekonomi dalam bentuk semangat meraih keuntungan semaksimal mungkin.
4.Kebebasan melakukan kompetisi.
5.Mengakui hukum ekonomi pasar bebas/mekanisme pasar.

Dalam perkembangannya kapitalisme menjadi sangat berpengaruh kepada seluruh aspek global kemasyarakatan. Sistem kapitalisme membentuk sistem sekulerisme, yang menghalangi agama terlibat dalam kebijakan ekonomi.

Kapitalisme juga mengenal liberalisasi perdagangan dalam bentuk pasar bebas. Perdagangan bebas yang dilakukan berdasarkan sistem kapitalisme merupakan bentuk baru dari kapitalisme global. Selain itu pengaruh dari kapitalisme global adalah munculnya liberalisme di bidang perekonomian.

2. Lahirnya Kapitalisme

Kapitalisme muncul di Eropa pada abad ke-16. Kapitalisme muncul dari paham feodalisme di Eropa. Kapitalisme di Eropa muncul dari pemikiran kaum ilmiah yang pada awalnya berfikir untuk mensejahterakan kaum buruh. Sejarah kapitalisme melewati tiga fase sebagai berikut.

Kapitalisme Awal (1500-1750)
Pada akhir abad pertengahan (abad 16 sampai 18), Industri di Ingriss sedang terkonsentrasi pada industri sandang. Industri sandang di Ingris menjadi industri sandang terbesar di Eropa. Meskipun banyak maslah yangb di hadapi akan tetapi indusrti sandang di Ingris menjadi industri yang sangat pesat. Industri sandangt inilah yang menjadi pelopor lahirnya kapitalisme di Eropa sebagai suatu sistem sosial dan ekonomi.
Kemudian industri ini berlanjut pada usaha perkapalan, pergudangan, bahan- bahan mentah, barang- barang jadi dan variasi bentuk kekayaan yang lain. Dan kemudian berubah menjadi perluasan kapasitas produksi, dan kapitalisme ini yang kemudian hari justru banyak menelan korban.

Dari beberapa kejadian dan juga faktor lingkungan historis mempengaruhi pembentukan modal di Eropa Barat pada awal terbentuknya kapitalisme antara lain:1) dukungan agama bagi kerja keras dan sikap hemat; 2) pengaruh logam logam mulia dari dunia baru terhadap perkembangan relatif pendapatan atas upah, laba dan sewa; 3) peranan negara negara dalam membantu dan secara langsung melakukan pembentukan modal dalam bentuk benda benda modal aneka guna.

Etika ekonomi yang diajarkan katolisme abad pertengahan menciptakan banyak hambatan bagi perkembangan kapitalis dan ideologi kapitalis (Dudley Dillard, 1987:17).

Di perkotaan, para pedagang kapitalis menjual barang barang produksi mereka selama mereka melakukan satu perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Awalnya mereka menjual barang pada teman sesama pedagang seperjalanan, lalu berkembang menjadi perdagangan umum. Sementara di wilayah pedesaan saat itu masih cenderung feodalistik.

Dalam hal ini Russel mengemukakan adanya tiga faktor yang menghambat kapitalisme di pedesaan dan berbagai wilayah lain. Kendala itu adalah :
a. Tanah yang ada hanya digunakan untuk bercocok tanam, sehingga hasil produksinya sangat terbatas.
Russel mengusulkan untuk mengubah tanah menjadi sesuatu yang lebih menguntungkan (profitable). Atau dengan pengertian lain tanah bisa diperjual belikan seperti barang lainnya.
b. Para petani atau buruh tani yang masih terikat pada sistem ekonomi subsistensi. Komentar Russel untuk hal ini adalah mereka siap untuk dipekerjakan dengan upah tertentu.
c. Hasil produksi yang diperoleh petani saat itu hanya sekedar digunakan untuk mencukupi kebutuhan pribadi. Menurut Russel, produksi hasil petani harus ditawarkan ke pasar dan siap dikonsumsi oleh publik.

evolusi Harga di dunia baru membawa dampak mendalam pada kapitalisme Eropa, pada kelas kelas ekonomis dan disrtibusi pendapatan di Mexico, Peru dan Bolivia. Tingginya harga dan rendahnya upah mengakibatkan menyebabkan inflasi keuntungan, yang pada akhirnya menyumbang pada membesarnya akuulasi modal.

Kapitalisme Klasik
Pada fase Kapitalisme mulai masuk dan merupakan pergeseran dari perdagangan public ke bidang industri. Pada fase iniditandai dengan adanya Revolusi Industri di Inggris. Di Inggris mulai banyak diciptakan mesin- mesin besar yang sangat berguna untuk menunjang industri. Revolusi Industri dapat didefinisikan sebagai periode peralihan dari dominasi modal perdagangan atas modal industri ke dominasi modal industri atas modal perdagangan ( Dudley Dillard, 1987: 22 )

Kapitalisme mulai menjadi penggerak kuat bagi perubahan teknologi karena akumulasi modalmemungkinkan penggunaan penggunaan pennemuan baru yang tak m ungkin dilakukan oleh masyarakat miskin.

Di fase inilah mulai dikenal tokoh yang disebut “bapak kapitalisme” yaitu Adam Smith. Adam Smith bersama dengan bukunya yang sangat tekenal yaitu the Wealth Of Nations ( 1776 ).Buku ini mencerminkan ideologi kapitalisme klasik. Salah satu poin ajarannya “laissez faire” dengan invisible hand-nya ( mekanisme pasar ). Kebijaksanaan kebijaksanaan laissez faire mencakup pulaperdagangan bebas, keuangan yang kuat, anggaran belanja seiombang, bantuan kemiskinan minimum. Tak ada satu konsepsi baru pun tentang masyarakat yang dapat menandingi peradaban kapitalisme.

Sistem ini meskipun didefinisikan secara baik dan logis, namun sistem ini masih banyak berbagai kecenderungan. Dalam sistem ini masih banyak memakia warisan warisan masa lampau yang menghambat realisasi dari sistem ini.

Beberapa tokoh seangkatan seperti David Ricardo dan John Stuart Mills, yang sering dikenal sebagai tokoh ekonomi neo- klasik. Pada fase inilah kapitalisme sering mendapat hujatan pedas dari kelompok Marx.

Kapitalisme Lanjut
Peristiwa besar yang menandai fase ini adalah terjadinya Perang Dunia I. Kapitalisme lanjut sebagai peristiwa penting ini ditandai paling tidak oleh tiga momentum. Momentum yang pertama, pergeseran dominasi modal dari Eropa ke Amerika. Kedua, bangkitnya kesadaran bangsa- bangsa di Asia dan Afrika sebagai akses dari kapitalisme klasik, yang kemudian memanifestasikan kesadaran itu dengan perlawanan. Ketiga, revolusi Bolshevik Rusia yang berhasrat meluluhlantakkan institusi fundamental kapitalisme yang berupa pemilikan secara individu atas penguasaan sarana produksi, struktur kelas sosial, bentuk pemerintahan dan kemapanan agama. Darisana muncul ideologi tandingan yaitu komunisme.

Ada tiga hal yang menjadi pola sifat dan watak dasar kapitalisme, tiga hal tersebut yang melandasi adanya penindasan yang terjadi dari sejak munculnya kapitalisme sampai praktek kapitalisme yang terjadi detik ini. Tiga hal tersebut adalah:
1. Eksploitasi
Ini berarti pengerukan secara besar-besaran dan habis- habisan terhadap sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia, seperti yang terjadi pada jaman penjajahan, bahkan sampai sekarang meskipun dalam bentuk yang tidak sama. Kaum kapitalis akan terus melakukan perampokan besar- besaran terhadap kekayaan alam kita and terus mengeksploitasi para buruh demi kepentingan dan keuntungan pribadi.
2. Akumulasi
Secara harfiah akumulasi berarti penumpukan, sifat inilah yang mendasari kenapa capitalist tidak pernah puas dengan dengan apa yang telah diraih. Misalnya, kalau pertama modal yang dipunyai adalah Rp.1 juta maka si kapitalis akan berusaha agar bisa melipat gandakan kekayaannya menjadi Rp.2 juta dan seterusnya. Sehingga kaum kapitalis selalu menggunakan segala cara agar kekayaan mereka berkembang dan bertambah.
3. Ekspansi
Ini berarti pelebaran sayap atau perluasan wilayah pasar, seperti yang pada kapitalisme fase awal. Yaitu dari perdagangan sandang diperluas pada usaha perkapalan, pergudangan, barang- barang mentah dan selanjutnya barang- barang jadi.
Dan yang terjadi sekarang adalah kaum kolonialis melakukan ekspansi ke seluruh penjuru dunia melalui modal dan pendirian pabrik – pabrik besar yang nota bene adalah pabrik lisensi. Yang semakin dimuluskan dengan jalan globalisasi.

Kapitalisme yang lahir dari pemikiran masyarakat feodal kini telah menjadi senjata ampuh negara maju untuk memajukan perekonomian mereka. Sementara itu kapitalisme juga telah membunuh perekonomian negara berkembang atau negara negara miskin. Konsep Kapitalisme yang sudah mendunia memang tidak bisa dihindari oleh negara negara maju dan negara negara dunia ketiga. Tanpa disadari Kapitalisme telah menjadi sebuah ancaman besar bagi masyarakat negara negara berkenbang. Kapitalisme telah menjadi neo Imperialisme yaitu penjajahan dengan konsep baru yang lebih modern.

Bahan Bacaan
Dudley Dillard. 1987. Kapitalisme Dulu dan Sekarang ( terjemahan oleh M. Dawam Rahardjo ). Jakarta: LP3ES.
Berger, Peter L. 1987. Revolusi Kapitalisme ( terjemahan oleh Moh Oemar ). Jakarta:
Giddens Anthony. 1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern ( terjemahan oleh Soeheba Kramadibrata ). Jakarta: Universitas Indonesia ( UI Press ).

http://ms.wikipedia.org/wiki/kapitalisme

http://one.indoskripsi.com/content/sejarah-singkat-kapitalisme-sosialisme

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.